DAMPAK
DARI KURANGNYA PENYERAPAN TENAGA KERJA PERAWAT
DI
INDONESIA
Dosen Pembimbing : Ns. Nana
Rochana, S.Kep,MN
Disusun
oleh:
Banatus
Sholihah
22020117140008
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017
Dampak dari Kurangnya Penyerapan
Tenaga Kerja Perawat di Indonesia
Penyerapan
tenaga kerja perawat oleh pemerintah indonesia masih cukup rendah, perekrutan
perawat sebagai pegawai negeri menjadi masalah yang belum tertanggulangi oleh
pemerintah. Pasalnya, banyak perawat yang sudah lulus dari serangkaian
pendidikan dan syarat-syarat yang sudah terpenuhi mengaku belum mendapatkan
statusnya sebagai pegawai negeri. Bahkan, tanggungjawab sebagai seorang perawat
yang sama-sama berat harus dipikul oleh semua perawat tanpa mempertimbangkan
gaji atau apresiasi dari pemerintah. Bukan hanya itu, bahkan perawat yang biasa
dikenal dengan perawat honorer masih belum bisa mendapatkan statusnya sebagai
pegawai negeri sipil (PNS) walaupun sudah mengabdi untuk masyarakat
bertahun-tahun. Hal ini sangat disayangkan, mengingat perawat adalah pekerjaan
yang mengabdikan dirinya untuk negara melalui tenaganya untuk meningkatkan
kualitas kesehatan Indonesia. Apresiasi yang sama sepertinya belum didapatkan
pada semua tenaga pelayanan kesehatan, mengingat penyeleksian PNS pada perawat
tidak dibuka setiap tahunnya sedangkan tenaga medis yang lain dapat
berkesempatan mendapatkan kursi PNS setiap tahunnya. Jumlah perawat honorer
saat ini mencapai 11.300 orang yang terdata dari 15 provinsi. 1 Hal
seperti ini bukan hal yang tidak berdampak, dampaknya bisa besar dan meluas.
Akan ada pembahasan untuk dampak-dampak negatif maupun positif dari rendahnya
penyerapan kerja perawat di Indonesia.
Hal
pertama akan berdampak pada kualitas kinerja perawat. Penyerapan tenaga kerja
yang kurang maksimal seperti ini bisa menjadi hal yang serius bila tidak segera
ditangani. Apresiasi yang kurang bisa menurunkan kualitas dari seorang perawat
sendiri dan bisa berakibat pada kesehatan di Indonesia secara lebih luas dan
serius. Mengingat di Indonesia jumlahnya paling banyak bila dibandingkan dengan
tenaga kesehatan lainnya, sehingga perannya menjadi penentu dalam meningkatkan
mutu pelayanan kesehatan baik di puskesmas maupun di rumah sakit. 2 Sampai
saat ini pun perawat adalah tenaga medis yang mendominasi di rumah sakit maupun
puskesmas. Kaitannya dengan jumlah perawat yang sangat mendominasi dampaknya
akan sangat besar dengan kualitas yang diberikan pada pelayanan kesehatan. Bukan
hal tabu bila seseorang akan lebih meningkatkan kualitas kerjanya bila
diberikan apresiasi lebih, contohnya pemberian gaji. Gaji antara honorer dan
PNS terpaut cukup jauh dan ini menyebabkan perawat berlomba-lomba untuk menjadi
seorang PNS. saat ini,realisasi modal pada kuartal II-2017 memang naik 12,7%
dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun penyerapannya tenaga kerja
justru berkurang.2 Hal ini menandakan bahwa memang adanya pengurangan
penyerapan tenaga kerja. Hal ini membawa dampak yang cukup signifikan ke dunia
kerja perawat di Indonesia. Baru-baru ini perawat dari karyadi,semarang yang
mendaftar menjadi seorang PNS sebanyak 2000 orang,yang mendapat kursi dari 2000
orang tersebut hanya 2 orang.3
Hal
kedua dampak dari penyerapan tenaga kerja perawat oleh pemerintah,akan
berdampak pada kesenjangan sosial. Selain berdampak pada kualitas kesehatan
yang kurang maksimal. Hal ini akan berpengaruh pada hubungan interpersonal
antar perawat sendiri, dimana perawat PNS akan memiliki rasa derajat yang lebih
tinggi sedangkan honorer akan merasa dibawahnya. Selain itu juga akan muncul
kecemburuan sosial antara keduanya. Performa perawat yang dituntut sama dan
memiliki tanggungjawab sama namun gaji atau pendapatan berbeda akan menjadi
seorang honorer memiliki kecemburuan.
Hal
ketiga, dampak dari penurunan penyerapan kerja perawat tentu bila sudah
membahas masalah pendapatan akan masuk kepada hal-hal yang berbau ekonomi, hal
ini berkaitan dengan ekonomi, ekonomi juga menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi kesejahteraan seseorang. Kesejahteraan perawat di Indonesia belum
bisa baik karena banyak perawat di Indonesia yang mengaku belum mendapat gaji
sesuai yang mereka lakukan atau kerjakan. Hal semacam ini berpengaruh bagi
kehidupan si perawat sendiri. Ketua persatuan perawat Indonesia (PNNI) Hanif
Fadhillah mengatakan tantangan terbesar profesi perawat sekarang ini adalah
bagaimana memberikan kesejahteraan yang layak bagi profesi bidang kesehatan
tersebut.2 Maka disini dampak lain dari penyerapan tenaga kerja
perawat yang rendah berpengaruh cukup besar pada kesejahteraan perawat.
Dampak
keempat bisa memudarnya rasa tanggungjawab si perawat sendiri,sudah dijelaskan
bahwa keterkaitan menurunnya kualitas kesehatan,bisa karena perawat yang kurang
apresiasi dari pemerintah. Jadi perawat dapat memiliki rasa kurang
tanggungjawab atas kewajibannya. Walaupun perawat sudah menjadi orang yang
terdidik sekalipun, semua pelarian dari tanggungjawab bahkan tidak hanya dapat
dilakukan oleh orang terdidik. Bahkan penegak hukum sekalipun. Karena memang
pada dasarnya naluri semua orang adalah mempertahankan apa yang seharusnya
mereka dapatkan. Bahkan ada istilah materialistis yang menyebabkan seseorang
memang sejatinya ingin mempertahankan kehidupannya dengan orientasi finansial
sebagai penunjang kehidupannya. Tetapi dalam prosesnya biasanya istilah ini
untuk orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Sehingga memang
kebutuhan manusia akan apresiasi berupa materi adalah hal pokok untuk
kelanjutan hidupnya.
Dampak
kelima yaitu dapat memunculkan peluang melakukan tindakan kriminalitas.
Kriminalitas dalam masyarakat. Menurut andi hamzah (1986:64) faktor penyebab kriminal
dikelompokkan menjadi faktor dari dalam diri pelaku maupun dari luar diri
pelaku. Karena berkaitan dengan penyerapan kerja maka faktor yang berkaitan
adalah dari luar diri pelaku (Kemiskinan dan lingkungan). Namun, ada juga dari
dalam diri pelaku. Kemiskinan menjadi salah satu faktor dari tindak
kriminalitas karena pasalnya dengan hidup dalam keterbatasan maupun kekurangan
akan mempersulit seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik dari segi
kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan), papan(tempat tinggal sehingga
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut seseorang melakukan berbagai cara
guna memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk dengan cara yang tidak sesuai dengan
ketentuan hukum, lanjutnya.4 Faktor lain juga bisa karena lingkungan.
Hal tersebut karena kriminalitas akan marak terjadi karena lingkungan yang
potensial. Maka hal ini berkaitan dengan perawat yang di lingkup intansi rumah
sakit sekalipun tetap bisa melakukan tindakan kriminalitas. Bila dilihat dari
peluangnya, hal yang berkaitan dengan kasus pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia)
skala berat dengan penjualan organ. Pasar-pasar gelap yang menjanjikan uang
besar merupakan tawaran yang menggiurkan para pekerja yang merasa dirinya
kekurangan akan hal finansial. Bukan hal baru lagi bila penjualan organ berawal
dari oknum-oknum yang berasal dari rumah sakit. Mereka yang menyalahgunakan
ilmunya untuk melancarkan kegiatan terlarang ini. Biasanya dalam kasus
terdahulu yang menjadi dalangnya dokter, kemudian perawat akan membantu dokter
di meja eksekusi. Dengan iming-iming imbalan yang cukup besar dan desakan
ekonomi yang belum terpenuhi bisa menjadi pemicu utama tindakan kriminalitas
yang dilakukan oleh perawat. Namun tentunya faktor dari dalam diri perawat
masih menjadi yang utama dan pertama, karena pengendalian diri masih tetap yang
terpenting. Bila seseorang memiliki benteng yang kuat akan tindakan-tindakan
terlarang, maka hal-hal apapun yang memicu seseorang melakukan tindakan
tersebut tidak akan terjadi.
Dampak
negatif keenam adalah pelanggaran hak-hak pasien atau klien yang bisa diakukan
oleh perawat, pelanggaran hak-hak pasien pada hakikatnya akan berkaitan pada
hak-hak pasien sebagai manusia. Hal tersebut sering terdengar biasa perawat
melakukan keerasan pada pasien atau parahnya bahkan sampai melakukan
pembunuhan. Pemicunya karena pekerjaan yang terlampau berat yang harus
ditanggung perawat sendiri ditambah apresiasi yang kurang. Hal ini dapat memicu
munculnya semakin banyak kasus kekerasan atau bahkan pembunuhan. Kondisi psikis
perawat juga tidak selalu dalam kondisi baik. Bila tuntutan kerja yang harus
selalu memberikan perawatan yang optimal pada pasien tanpa memperlihatkan
kondisi dirinya sebenarnya,dirasa akan sangat berat bagi sebagian perawat bila
tidak diimbangi dengan apresiasi yang lebih dari pemerintah khususnya.
Dampak
negatif dari kurangnya penyerapan kerja perawat di Indonesia memang
mendominasi. Namun, ada juga dampak positif yang bisa timbul terkait masalah
ini. Untuk terlepas dari kekurangannya, manusia akan berusaha untuk bisa
melakukan usaha lebih dan akan melakukan upaya untuk menyejahterakan hidupnya.
Dari kurangnya penyerapan tenaga kerja di Indonesia pada saat ini memunculkan
ide-ide baru yang muncul dari perawat. Salah satunya semakin berkembangnya
kewirausahaan di bidang kesehatan khususnya di dunia keperawatan. Istilah
kewirausahaan dalam Bahasa Indonesia disebut dengan kewirausahaan, menurut
ejaan Bahasa Indonesia kewirausahaan terdiri dari beberapa suku kata yaitu ke-
wirausaha- an. Wirausaha adalah seseorang yang mampu melihat adanya peluang
kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut
untuk memulai bisnis yang baru atau kemampuan setiap orang untuk menangkap
setiap peluang usaha, dan dimanfaatkannya sebagai lahan usaha, atau bisnis dan
seluruh waktunya dicurahkan untuk menemukan peluang-peluang bisnis.5
Entrepreneur
bukan hanya berbicara tentang
bisnis. Di dalam ilmu keperawatan, Entrepreneur adalah bagaimana
membuat perawat menjadi lebih baik dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik
untuk diri sendiri dan orang lain. Karena pada zaman globalisasi, sumber daya
manusia merupakan salah satu kunci untuk membangun suatu keunggulan kompetitif
yang berkesinambungan. Karena masuknya tenaga asing (terampil ke indonesia
ataupun sebaliknya indonesia berkarir di overseas) merupakan salah satu
indikator tenaga kerja, standarisasi karakter sumber daya manusia (SDM)
alternatif menuju format baru standarisasi kualitas SDM di masa depan. Oleh
karena itu, karakteristik SDM di masa datang hanya bisa direncanakan,
komunikasi informasi telah membawa kemajuan dan perubahan di segala bidang
terutama kemajuan untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia yang
berkeahlian,cakap, terampil berbudaya dan berbudi luhur dalam memenuhi peluang
dan tantangan di masa datang.6 Dari hal ini akan memunculkan usaha
pribadi akan lebih pesat berkembang karena dampak pemerintah yang belum bisa
menyerap semua tenaga kerja perawat. Perawat di masa datang akan lebih berfikir
kritis mengenai permasalahan yang dihadapi. Bukan berarti telah lulus dari
sekolah keperawatan harus menjadi seorang perawat, semuanya tidak bisa menjamin
bila hanya mengandalkan berkesempatan mendapatkan pekerjaan menjadi seorang
tenaga negeri sipil. Peluang yang semakin menurun membuat para perawat saat ini
atau di masa mendatang akan mencari inovasi dan memutar balikkan otak untuk
mencari solusi dalam masalah ini. Ilmu yang sudah di dapatnya dalam dunia
keperawatan bisa digunakan untuk perawat sendiri dalam membuka suatu usaha.
Misalnya dengan membuka klinik homecare, suatu terobosan baru yang jika
berkembang dengan baik maka akan menghasilkan sesuatu yang tidak sedikit.
Tetapi bisa juga berdampak kepada tenaga kerja yang lain. Karena membuka usaha
seperti ini membutuhkan perekrutan tenaga kerja bagi sesama perawat. Jadi para
lulusan perawat harus bisa mengembangkan kompetensi dan tidak hanya bergantung
pada lapangan kerja seperti rumah sakit, tetapi harus bisa membuka lapangan
pekerjaan. Agar bisa membantu atau bahkan mengalihkan bahwa tidak harus menjadi
PNS untuk dirinya bisa sejahtera, menjadi pengusaha akan mendatangkan manfaat
bagi perawat sendiri maupun perawat lainnya.
Apresiasi
memang sangat dibutuhakan pada psikis seseorang, orang akan bersemangat bekerja
atau meningkatkan kualitas hidupnya bila mendapatkan apresiasi. Dalam konteks
ini karena yang dimaksudkan bukan sebatas pujian tapi juga pemberian yang nyata
dari pemerintah atas apa yang dilakukan perawat sebagai abdi negara. Diharapkan
pemerintah mampu segera mengatasi masalah seperti ini. Hal seperti ini tidak
bisa dianggap sepele karena bila dibiarkan akan semakin membuat dampak negatif
semakin besar. Karena dari pembahasan diatas dampak negatif yang lebih banyak
terlihat daripada dampak positifnya. Yang diharapkan untuk pemerintah, bila
belum dapat memberikan apresiasi tersebut, pemerintah bisa memberikan solusi segera
menyelesaikan revisi kebijakan agar kehidupan perawat bisa menjadi lebih
sejahtera. Selain itu, dengan membantu penyaluran tenaga kerja ke luar negeri
yang lebih terstruktur dan pemberian pengetahuan tentang usaha lain yang bisa
dilakukan perawat atau memanfaatkan ilmu keperawatannya tanpa menjadi seorang
PNS.
Daftar Pustaka
1.
Ulyaemyu. Tugas dan Tanggungjawab
Seorang Perawat [internet]. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang; 2016
[Diakses pada 20 November 2017]. Dari: http://ulyaemyu.mahasiswa.unimus.ac.id.
2. Murdaningsih
D. UU ASN Bisa Jadi Solusi Masalah Tenaga Perawat Honorer [internet]. Jakarta:
Republika ; 2017 [Diakses pada 20 November 2017]. Dari:
m.republika.co.id/berita/dpr-ri/17/03/17.
3. Maulana
A. Perawat pun Bisa Menjadi Seorang Entrepreneur [internet]. Bandung:
Universitas Padjajaran ; 2012 [Diakses pada 21 November 2017]. Dari: www.unpad.ac.id/2012/09
4. PPNI
: Masalah Besar Perawat adalah Kesejahteraan [internet] : Republika ; 2017
[Diakses pada 21 November 2017]. Dari: m.republika.co.id/amp_version
5. Faizal.
Nursepreneur Peluang Bagi Perawat [internet]. Semarang: Universitas
Muhammadiyah Semarang; 2014 [Diakses pada 21 November 2017]. Dari:
perawats1.unimus.ac.id
6. Ratnasari
KD, Yusni MB, Nugraha WA,Witari AAI. Analisis Faktor Penyebab Kemiskinan dan
Kriminalitas (Studi kasus: Kampung Stren Kali Jagir Kota Surabaya) Surabaya:
Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya ; 2015 [Diakses pada 21 November
2017]. Dari: http://www.academia.edu