Selasa, 06 Maret 2018

TUGAS ARTIKEL DAMPAK DARI KURANGNYA PENYERAPAN TENAGA KERJA PERAWAT DI INDONESIA


DAMPAK DARI KURANGNYA PENYERAPAN TENAGA KERJA PERAWAT
DI INDONESIA
Dosen Pembimbing : Ns. Nana Rochana, S.Kep,MN


Disusun oleh:
Banatus Sholihah
22020117140008
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017


Dampak dari Kurangnya Penyerapan Tenaga Kerja Perawat di Indonesia
Penyerapan tenaga kerja perawat oleh pemerintah indonesia masih cukup rendah, perekrutan perawat sebagai pegawai negeri menjadi masalah yang belum tertanggulangi oleh pemerintah. Pasalnya, banyak perawat yang sudah lulus dari serangkaian pendidikan dan syarat-syarat yang sudah terpenuhi mengaku belum mendapatkan statusnya sebagai pegawai negeri. Bahkan, tanggungjawab sebagai seorang perawat yang sama-sama berat harus dipikul oleh semua perawat tanpa mempertimbangkan gaji atau apresiasi dari pemerintah. Bukan hanya itu, bahkan perawat yang biasa dikenal dengan perawat honorer masih belum bisa mendapatkan statusnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) walaupun sudah mengabdi untuk masyarakat bertahun-tahun. Hal ini sangat disayangkan, mengingat perawat adalah pekerjaan yang mengabdikan dirinya untuk negara melalui tenaganya untuk meningkatkan kualitas kesehatan Indonesia. Apresiasi yang sama sepertinya belum didapatkan pada semua tenaga pelayanan kesehatan, mengingat penyeleksian PNS pada perawat tidak dibuka setiap tahunnya sedangkan tenaga medis yang lain dapat berkesempatan mendapatkan kursi PNS setiap tahunnya. Jumlah perawat honorer saat ini mencapai 11.300 orang yang terdata dari 15 provinsi. 1 Hal seperti ini bukan hal yang tidak berdampak, dampaknya bisa besar dan meluas. Akan ada pembahasan untuk dampak-dampak negatif maupun positif dari rendahnya penyerapan kerja perawat di Indonesia.
Hal pertama akan berdampak pada kualitas kinerja perawat. Penyerapan tenaga kerja yang kurang maksimal seperti ini bisa menjadi hal yang serius bila tidak segera ditangani. Apresiasi yang kurang bisa menurunkan kualitas dari seorang perawat sendiri dan bisa berakibat pada kesehatan di Indonesia secara lebih luas dan serius. Mengingat di Indonesia jumlahnya paling banyak bila dibandingkan dengan tenaga kesehatan lainnya, sehingga perannya menjadi penentu dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan baik di puskesmas maupun di rumah sakit. 2 Sampai saat ini pun perawat adalah tenaga medis yang mendominasi di rumah sakit maupun puskesmas. Kaitannya dengan jumlah perawat yang sangat mendominasi dampaknya akan sangat besar dengan kualitas yang diberikan pada pelayanan kesehatan. Bukan hal tabu bila seseorang akan lebih meningkatkan kualitas kerjanya bila diberikan apresiasi lebih, contohnya pemberian gaji. Gaji antara honorer dan PNS terpaut cukup jauh dan ini menyebabkan perawat berlomba-lomba untuk menjadi seorang PNS. saat ini,realisasi modal pada kuartal II-2017 memang naik 12,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun penyerapannya tenaga kerja justru berkurang.2 Hal ini menandakan bahwa memang adanya pengurangan penyerapan tenaga kerja. Hal ini membawa dampak yang cukup signifikan ke dunia kerja perawat di Indonesia. Baru-baru ini perawat dari karyadi,semarang yang mendaftar menjadi seorang PNS sebanyak 2000 orang,yang mendapat kursi dari 2000 orang tersebut hanya 2 orang.3
Hal kedua dampak dari penyerapan tenaga kerja perawat oleh pemerintah,akan berdampak pada kesenjangan sosial. Selain berdampak pada kualitas kesehatan yang kurang maksimal. Hal ini akan berpengaruh pada hubungan interpersonal antar perawat sendiri, dimana perawat PNS akan memiliki rasa derajat yang lebih tinggi sedangkan honorer akan merasa dibawahnya. Selain itu juga akan muncul kecemburuan sosial antara keduanya. Performa perawat yang dituntut sama dan memiliki tanggungjawab sama namun gaji atau pendapatan berbeda akan menjadi seorang honorer memiliki kecemburuan.
Hal ketiga, dampak dari penurunan penyerapan kerja perawat tentu bila sudah membahas masalah pendapatan akan masuk kepada hal-hal yang berbau ekonomi, hal ini berkaitan dengan ekonomi, ekonomi juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kesejahteraan seseorang. Kesejahteraan perawat di Indonesia belum bisa baik karena banyak perawat di Indonesia yang mengaku belum mendapat gaji sesuai yang mereka lakukan atau kerjakan. Hal semacam ini berpengaruh bagi kehidupan si perawat sendiri. Ketua persatuan perawat Indonesia (PNNI) Hanif Fadhillah mengatakan tantangan terbesar profesi perawat sekarang ini adalah bagaimana memberikan kesejahteraan yang layak bagi profesi bidang kesehatan tersebut.2 Maka disini dampak lain dari penyerapan tenaga kerja perawat yang rendah berpengaruh cukup besar pada kesejahteraan perawat.
Dampak keempat bisa memudarnya rasa tanggungjawab si perawat sendiri,sudah dijelaskan bahwa keterkaitan menurunnya kualitas kesehatan,bisa karena perawat yang kurang apresiasi dari pemerintah. Jadi perawat dapat memiliki rasa kurang tanggungjawab atas kewajibannya. Walaupun perawat sudah menjadi orang yang terdidik sekalipun, semua pelarian dari tanggungjawab bahkan tidak hanya dapat dilakukan oleh orang terdidik. Bahkan penegak hukum sekalipun. Karena memang pada dasarnya naluri semua orang adalah mempertahankan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Bahkan ada istilah materialistis yang menyebabkan seseorang memang sejatinya ingin mempertahankan kehidupannya dengan orientasi finansial sebagai penunjang kehidupannya. Tetapi dalam prosesnya biasanya istilah ini untuk orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Sehingga memang kebutuhan manusia akan apresiasi berupa materi adalah hal pokok untuk kelanjutan hidupnya.
Dampak kelima yaitu dapat memunculkan peluang melakukan tindakan kriminalitas. Kriminalitas dalam masyarakat. Menurut andi hamzah (1986:64) faktor penyebab kriminal dikelompokkan menjadi faktor dari dalam diri pelaku maupun dari luar diri pelaku. Karena berkaitan dengan penyerapan kerja maka faktor yang berkaitan adalah dari luar diri pelaku (Kemiskinan dan lingkungan). Namun, ada juga dari dalam diri pelaku. Kemiskinan menjadi salah satu faktor dari tindak kriminalitas karena pasalnya dengan hidup dalam keterbatasan maupun kekurangan akan mempersulit seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik dari segi kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan), papan(tempat tinggal sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut seseorang melakukan berbagai cara guna memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk dengan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum, lanjutnya.4 Faktor lain juga bisa karena lingkungan. Hal tersebut karena kriminalitas akan marak terjadi karena lingkungan yang potensial. Maka hal ini berkaitan dengan perawat yang di lingkup intansi rumah sakit sekalipun tetap bisa melakukan tindakan kriminalitas. Bila dilihat dari peluangnya, hal yang berkaitan dengan kasus pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) skala berat dengan penjualan organ. Pasar-pasar gelap yang menjanjikan uang besar merupakan tawaran yang menggiurkan para pekerja yang merasa dirinya kekurangan akan hal finansial. Bukan hal baru lagi bila penjualan organ berawal dari oknum-oknum yang berasal dari rumah sakit. Mereka yang menyalahgunakan ilmunya untuk melancarkan kegiatan terlarang ini. Biasanya dalam kasus terdahulu yang menjadi dalangnya dokter, kemudian perawat akan membantu dokter di meja eksekusi. Dengan iming-iming imbalan yang cukup besar dan desakan ekonomi yang belum terpenuhi bisa menjadi pemicu utama tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh perawat. Namun tentunya faktor dari dalam diri perawat masih menjadi yang utama dan pertama, karena pengendalian diri masih tetap yang terpenting. Bila seseorang memiliki benteng yang kuat akan tindakan-tindakan terlarang, maka hal-hal apapun yang memicu seseorang melakukan tindakan tersebut tidak akan terjadi.
Dampak negatif keenam adalah pelanggaran hak-hak pasien atau klien yang bisa diakukan oleh perawat, pelanggaran hak-hak pasien pada hakikatnya akan berkaitan pada hak-hak pasien sebagai manusia. Hal tersebut sering terdengar biasa perawat melakukan keerasan pada pasien atau parahnya bahkan sampai melakukan pembunuhan. Pemicunya karena pekerjaan yang terlampau berat yang harus ditanggung perawat sendiri ditambah apresiasi yang kurang. Hal ini dapat memicu munculnya semakin banyak kasus kekerasan atau bahkan pembunuhan. Kondisi psikis perawat juga tidak selalu dalam kondisi baik. Bila tuntutan kerja yang harus selalu memberikan perawatan yang optimal pada pasien tanpa memperlihatkan kondisi dirinya sebenarnya,dirasa akan sangat berat bagi sebagian perawat bila tidak diimbangi dengan apresiasi yang lebih dari pemerintah khususnya.
Dampak negatif dari kurangnya penyerapan kerja perawat di Indonesia memang mendominasi. Namun, ada juga dampak positif yang bisa timbul terkait masalah ini. Untuk terlepas dari kekurangannya, manusia akan berusaha untuk bisa melakukan usaha lebih dan akan melakukan upaya untuk menyejahterakan hidupnya. Dari kurangnya penyerapan tenaga kerja di Indonesia pada saat ini memunculkan ide-ide baru yang muncul dari perawat. Salah satunya semakin berkembangnya kewirausahaan di bidang kesehatan khususnya di dunia keperawatan. Istilah kewirausahaan dalam Bahasa Indonesia disebut dengan kewirausahaan, menurut ejaan Bahasa Indonesia kewirausahaan terdiri dari beberapa suku kata yaitu ke- wirausaha- an. Wirausaha adalah seseorang yang mampu melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut untuk memulai bisnis yang baru atau kemampuan setiap orang untuk menangkap setiap peluang usaha, dan dimanfaatkannya sebagai lahan usaha, atau bisnis dan seluruh waktunya dicurahkan untuk menemukan peluang-peluang bisnis.5
Entrepreneur bukan hanya berbicara tentang bisnis. Di dalam ilmu keperawatan, Entrepreneur adalah bagaimana membuat perawat menjadi lebih baik dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain. Karena pada zaman globalisasi, sumber daya manusia merupakan salah satu kunci untuk membangun suatu keunggulan kompetitif yang berkesinambungan. Karena masuknya tenaga asing (terampil ke indonesia ataupun sebaliknya indonesia berkarir di overseas) merupakan salah satu indikator tenaga kerja, standarisasi karakter sumber daya manusia (SDM) alternatif menuju format baru standarisasi kualitas SDM di masa depan. Oleh karena itu, karakteristik SDM di masa datang hanya bisa direncanakan, komunikasi informasi telah membawa kemajuan dan perubahan di segala bidang terutama kemajuan untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia yang berkeahlian,cakap, terampil berbudaya dan berbudi luhur dalam memenuhi peluang dan tantangan di masa datang.6 Dari hal ini akan memunculkan usaha pribadi akan lebih pesat berkembang karena dampak pemerintah yang belum bisa menyerap semua tenaga kerja perawat. Perawat di masa datang akan lebih berfikir kritis mengenai permasalahan yang dihadapi. Bukan berarti telah lulus dari sekolah keperawatan harus menjadi seorang perawat, semuanya tidak bisa menjamin bila hanya mengandalkan berkesempatan mendapatkan pekerjaan menjadi seorang tenaga negeri sipil. Peluang yang semakin menurun membuat para perawat saat ini atau di masa mendatang akan mencari inovasi dan memutar balikkan otak untuk mencari solusi dalam masalah ini. Ilmu yang sudah di dapatnya dalam dunia keperawatan bisa digunakan untuk perawat sendiri dalam membuka suatu usaha. Misalnya dengan membuka klinik homecare, suatu terobosan baru yang jika berkembang dengan baik maka akan menghasilkan sesuatu yang tidak sedikit. Tetapi bisa juga berdampak kepada tenaga kerja yang lain. Karena membuka usaha seperti ini membutuhkan perekrutan tenaga kerja bagi sesama perawat. Jadi para lulusan perawat harus bisa mengembangkan kompetensi dan tidak hanya bergantung pada lapangan kerja seperti rumah sakit, tetapi harus bisa membuka lapangan pekerjaan. Agar bisa membantu atau bahkan mengalihkan bahwa tidak harus menjadi PNS untuk dirinya bisa sejahtera, menjadi pengusaha akan mendatangkan manfaat bagi perawat sendiri maupun perawat lainnya.
Apresiasi memang sangat dibutuhakan pada psikis seseorang, orang akan bersemangat bekerja atau meningkatkan kualitas hidupnya bila mendapatkan apresiasi. Dalam konteks ini karena yang dimaksudkan bukan sebatas pujian tapi juga pemberian yang nyata dari pemerintah atas apa yang dilakukan perawat sebagai abdi negara. Diharapkan pemerintah mampu segera mengatasi masalah seperti ini. Hal seperti ini tidak bisa dianggap sepele karena bila dibiarkan akan semakin membuat dampak negatif semakin besar. Karena dari pembahasan diatas dampak negatif yang lebih banyak terlihat daripada dampak positifnya. Yang diharapkan untuk pemerintah, bila belum dapat memberikan apresiasi tersebut, pemerintah bisa memberikan solusi segera menyelesaikan revisi kebijakan agar kehidupan perawat bisa menjadi lebih sejahtera. Selain itu, dengan membantu penyaluran tenaga kerja ke luar negeri yang lebih terstruktur dan pemberian pengetahuan tentang usaha lain yang bisa dilakukan perawat atau memanfaatkan ilmu keperawatannya tanpa menjadi seorang PNS.
Daftar Pustaka
1.      Ulyaemyu. Tugas dan Tanggungjawab Seorang Perawat [internet]. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang; 2016 [Diakses pada 20 November 2017]. Dari: http://ulyaemyu.mahasiswa.unimus.ac.id.
2.      Murdaningsih D. UU ASN Bisa Jadi Solusi Masalah Tenaga Perawat Honorer [internet]. Jakarta: Republika ; 2017 [Diakses pada 20 November 2017]. Dari: m.republika.co.id/berita/dpr-ri/17/03/17.
3.      Maulana A. Perawat pun Bisa Menjadi Seorang Entrepreneur [internet]. Bandung: Universitas Padjajaran ; 2012 [Diakses pada 21 November 2017]. Dari: www.unpad.ac.id/2012/09
4.      PPNI : Masalah Besar Perawat adalah Kesejahteraan [internet] : Republika ; 2017 [Diakses pada 21 November 2017]. Dari: m.republika.co.id/amp_version
5.      Faizal. Nursepreneur Peluang Bagi Perawat [internet]. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang; 2014 [Diakses pada 21 November 2017]. Dari: perawats1.unimus.ac.id
6.      Ratnasari KD, Yusni MB, Nugraha WA,Witari AAI. Analisis Faktor Penyebab Kemiskinan dan Kriminalitas (Studi kasus: Kampung Stren Kali Jagir Kota Surabaya) Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya ; 2015 [Diakses pada 21 November 2017]. Dari: http://www.academia.edu